Keutamaan Menyantuni Anak Yatim

Keutamaan Menyantuni Anak Yatim

[et_pb_section fb_built=”1″ _builder_version=”3.25.1″][et_pb_row _builder_version=”3.25.1″][et_pb_column type=”4_4″ _builder_version=”3.25.1″][et_pb_post_title meta=”off” featured_image=”off” _builder_version=”3.25.1″ title_font=”Montserrat||||||||” meta_font=”Montserrat||||||||”][/et_pb_post_title][/et_pb_column][/et_pb_row][et_pb_row _builder_version=”3.25.1″][et_pb_column type=”4_4″ _builder_version=”3.25.1″][et_pb_image src=”https://www.mitraummat.org/wp-content/uploads/2019/02/Kafalah-Yatim.jpg” _builder_version=”3.25.1″][/et_pb_image][/et_pb_column][/et_pb_row][et_pb_row _builder_version=”3.25.1″][et_pb_column type=”4_4″ _builder_version=”3.25.1″][et_pb_text _builder_version=”3.25.1″]

Dari Sahl bin Sa’ad radhiallahu ‘anhu ia mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِى الْجَنَّةِ هكَذَا » وأشار بالسبابة والوسطى وفرج بينهما شيئاً

“Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, selanjutnya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyaratkan jari telunjuk serta jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan agak merenggangkan keduanya[1].

Hadits yang agung ini tunjukkan besarnya keutamaan serta pahala orang yang meyantuni anak yatim, hingga imam Bukhari memberikan hadits ini dalam bab: keutamaan orang yang mengasuh anak yatim.

Beberapa faidah penting yang terdapat dalam hadits ini:

Arti hadits ini: orang yang menyantuni anak yatim di dunia akan tempati posisi yang tinggi di surga dekat sama posisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam[2].
Makna “menanggung anak yatim” ialah mengurus serta memerhatikan semua kepentingan hidupnya, seperti nafkah (minum dan makan), baju, mengasuh serta mendidiknya dengan pendidikan Islam yang benar[3].
Yang disebut dengan anak yatim ialah seseorang anak yang ditinggal oleh ayahnya sebelum anak itu sampai umur dewasa[4].
Keutamaan dalam hadits ini belaku buat orang yang meyantuni anak yatim dari harta orang tersebut atau harta anak yatim itu bila orang itu betul-betul yang mendapatkan keyakinan untuk itu[5].
Demikian juga, keutamaan ini berlaku buat orang yang meyantuni anak yatim yang punyai jalinan keluarga dengannya atau anak yatim yang benar-benar tidak punyai jalinan keluarga dengannya[6].
Ada banyak hal yang perlu dilihat berkenaan dengan mengasuh anak yatim, yang ini seringkali berlangsung dalam masalah “anak angkat”, sebab ketidakpahaman beberapa dari golongan muslimin pada hukum-hukum dalam syariat Islam, salah satunya:
1. Larangan menisbatkan anak angkat/anak asuh pada tidak hanya ayah kandungnya, berdasar firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{ادْعُوهُمْ لِآَبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ فَإِنْ لَمْ تَعْلَمُوا آَبَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ}

“Panggillah mereka (beberapa anak angkat itu) dengan (menggunakan) nama bapak-bapak (kandung) mereka; itu yang lebih adil disamping Allah, apabila kamu tidak tahu bapak-bapak mereka, karena itu (panggilah mereka jadi) saudara-saudaramu satu agama serta maula-maulamu” (QS al-Ahzaab: 5).

2. Anak angkat/anak asuh tidak memiliki hak memperoleh warisan dari orangtua yang mengasuhnya, berlainan dengan rutinitas di jaman Jahiliyah yang memandang anak angkat seperti anak kandung yang memiliki hak memperoleh warisan saat orangtua angkatnya wafat dunia[7].

3. Anak angkat/anak asuh bukan mahram[8], hingga harus buat orangtua yang mengasuhnya atau beberapa anak kandung mereka untuk menggunakan jilbab yang menutupi aurat di muka anak itu, seperti saat mereka di muka orang yang bukan mahram, berlainan dengan rutinitas di waktu Jahiliyah.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Kendari, 12 Muharram 1433 H

Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA
Artikel Muslim.Or.Id

 

[1] HSR al-Bukhari (no. 4998 serta 5659).

[2] Lihat kitab “’Aunul Ma’buud” (14/41) serta “Tuhfatul ahwadzi” (6/39).

[3] Lihat kitab “Syarhu shahiihi Muslim” (18/113).

[4] Lihat kitab “an-Nihaayah fi gariibil hadiitsi wal atsar” (5/689).

[5] Lihat kitab “Syarhu shahiihi Muslim” (18/113) serta “Faidhul Qadiir” (3/49).

[6] Ibid.

[7] Seperti dalam HSR al-Bukhari (no. 3778), lihat kitab “Tafsir al-Qurthubi” (14/119).

[8] Mahram ialah orang yang tidak halal untuk dinikahi selama-lamanya dengan karena yang mubah (dibolehkan dalam agama). Lihat kitab “Fathul Baari” (4/77)

 

 

[/et_pb_text][et_pb_button button_text=”Artikel Asli” button_alignment=”center” _builder_version=”3.25.1″ custom_button=”on” button_text_color__hover=”#ffffff” button_text_color__hover_enabled=”on” button_bg_color__hover_enabled=”on” button_bg_color__hover=”#0c71c3″ button_border_color__hover_enabled=”on” button_border_color__hover=”#ffffff”][/et_pb_button][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]