Selasa, 02 Mei 2017

Menguak Misteri Langit dengan Teologi Islam


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Matematika, kedokteran, dan astronomi menjadi disiplin ilmu yang paling berkembang pada masa kekhalifahan Turki Utsmani. Salah satu ahli astronomi serta matematika terkemuka Muslim pada masa itu adalah Ali al-Qushji 1403–1474).

Bakat Ali al-Qushji di kedua bidang tadi terasah berkat jasa ahli astronomi, Ulugh Beg (1394–1449). Saat masih muda dan tinggal di Samarkand, al-Qushji berguru tentang pengembangan fisika astronomi dan filsafat alam. Selain sebagai murid, al-Qushji juga berperan sebagai mitra kerja Ulugh Beg.

Kegemaran mereka yang sama pada ilmu pengetahuan, matematika, dan astronomi menghasilkan karya luar biasa. Al-Qushji berkontribusi pada karya terkenal karya Beg, Zij-i-Sultani. Mereka juga mendirikan tempat pendidikan pertama pada masa Turki Usmani, Universitas Sahn Seman. Kemudian, al-Qushji mendirikan Observatorium Samarkand dan mengundang para ilmuwan dunia untuk bertandang ke tempat ini.

Pada abad ke-15 hingga 16, muncul tradisi keilmuan astronomi yang kuat di kalangan Muslim Turki. Hal ini setidaknya tergambar dari keberadaan dua tempat pengamatan benda angkasa, yakni Observatorium Samarkand dan Observatorium Istanbul.

Observatorium Samarkand menjadi salah satu tempat penelitian terbesar pada masa itu. Ulugh Beg mendirikannya pada 1429. Bangunan prestisius ini menjadi salah satu saksi masa kegemilangan Islam sekaligus menunjukkan adanya ikatan kerja sama yang erat antara kalangan Muslim dan penguasa Eropa.

Ulugh Beg juga mengundang para ilmuwan tersohor dunia ke Samarkand. Dia ingin menjadikan kota ini sebagai pusat penelitian astronomi dan matematika. Nama-nama ilmuwan terkemuka, seperti Ali Al-Qushji, al-Qashi, Kadizade-i Rumi, dan beberapa nama lainnya untuk bekerja di observatorium ini. 

Pada saat bersamaan, periode kehidup an di kalangan Muslim terus berkembang. Bidang seni dan pertanian menjadi ilmu yang memikat Muslim di kawasan Turkistan dan sekitarnya. Gerakan ini membuat Kota Samarkand menjadi pusat perkembangan budaya Islam serta ilmu pengetahuan kala itu. Pusat penelitian benda angkasa lainnya, Observatorium Istanbul didirikan oleh Taqi al-Din Ibnu Ma’ruf.

Saat pemerintahan Turki Usmani dipimpin Sultan Murad III, observatorium ini menjadi tempat kajian dan penelitian terpenting pada abad ke-16. Taqi al-Din Ibnu Ma’ruf dikenal sebagai pendiri observatorium pertama milik Kerajaan Turki Usmani.

Perkembangan pesat ilmu astronomi tadi membuat kaum muda Muslim berminat mempelajarinya. Salah satunya Ali al-Qushji. Dia adalah salah satu murid Ulugh Beg dan Kadizade-i Rumi. Al-Qushji menimba ilmu astronomi di Kota Samarkand dan Kirman. Setelah menuntaskan pendidikannya, dia menjadi asisten kepercayaan Ulugh Beg.

Al-Qushji konsisten menjalani kariernya di bidang astronomi. Setelah sang guru Kadizade-i Rumi wafat, al-Qushji ditunjuk sebagai kepala Observatorium Samarkand. Perannya di pusat peneliti an ini sangat dominan. Di tempat ini pula, ia menghasilkan sejumlah karya ilmiah bermutu.

Karya pertamanya, Risalah fi Hall Ashkal Mu’addil al-Qamar li-al-Masir, dipersembahkan untuk sang pembim -bing, Ulugh Beg. Di kitab ini, al-Qushji menjelaskan fase bulan. Karya ini memikat Ulugh Beg. Mereka pun kemudian berkolaborasi dan menghasilkan Zij-i Ulugh Beg/Zij-i Sultani. Dalam karya ilmiah ini, mereka membuat katalog perbintangan yang membantu penentuan perputaran benda-benda langit.

Sumber : http://m.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/17/05/02/opacv8313-menguak-misteri-langit-dengan-teologi-islam

0 komentar:

Posting Komentar