Jumat, 31 Maret 2017

Belajarlah Zikir dari Guru yang Sempurna


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kitab Khazinat Al-Asrar Jalilat Al-Adzkar pertama kali dicetak dan ditashih oleh Dar Al-Kutub Al-Arabiyat Al-Kubra, Mesir, pada Ramadhan tahun 1327 H. Sebelumnya, pada 1282 H, seorang Khatib Masjid Al-Azhar, Ibrahim Al-Saqa, menulis sebuah catatan sewaktu menelaah kitab Khazinat yang kala itu masih berbentuk manuskrip dan belum dipublikasikan.

Isi catatan tersebut kurang lebih mengatakan, hadis-hadis sahih yang dikutip oleh si penulis, mengajak orang beriman untuk selangkah lebih dekat kembali dengan menelaah, membaca, dan mengagungkan Alquran. Tak berlebihan apabila Ibrahim Al-Saqa, mengibaratkan kitab Khazinat layaknya sebuah taman nan luas yang memberikan manfaat luas bagi si pemilik dan orang lain.

Sedangkan, kitab yang terdapat dalam catatan pinggir hamisy adalah kitab karangan Syams Al-Din Muhammad bin Al-Jazari yang berjudul Al-Khashn Al-Khashin min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Sistematika yang dipakai Al-Nazili, yaitu bahasan pokok diuraikan ke dalam bab-bab utama, sedangkan ulasan yang menjelaskan bahasan pokok dijabarkan Al-Nazili di bawah sub-sub bab (fashl).

Sebelum membahas keutamaan dan rahasia di balik amalan dan zikir-zikir keseharian, Al-Nazili terlebih dahulu mengupas tentang beberapa hal penting yang dianggap sebagai intisari agama Islam. Bahasan-bahasan tersebut, antara lain terkait dengan niat, urgensi nasihat dan saling menasihati antarsesama Muslim, uraian tentang turunnya wahyu, dan tentunya penjelasan mengenai sejarah dan keutamaan Alquran.

Layaknya para ulama terdahulu, Al-Nazili memulai bahasannya dengan mengupas pentingnya memperbaiki niat sebagai modal awal beribadah. Terkait niat, Al-Nazili menjelaskan, ibadah dilihat dari fungsi niat terbagi menjadi dua bagian. Yaitu, pertama, ibadah mahdhah yang bukan merupakan wasilah ritual ibadah yang lain seperti shalat zakat, haji, puasa, dan berzikir. Menurut kesepakatan ulama, niat untuk kategori ibadah ini menjadi syarat sah tidaknya ritual yang dijalani.

Sedangkan, kategori yang kedua, yaitu ibadah yang merupakan wasilah untuk ibadah lainnya, misalnya wudu, mandi junub, dan azan. Terdapat perbedaan antara ulama bermazhab Syafii dan Hanafi. Menurut pendapat ulama Mazhab Hanafi, dalam hal ini, niat tidak dijadikan syarat sah. Dalam pandangan ulama Mazhab Syafii, sebagaimana kategori pertama, niat dianggap sebagai syarat sah atau tidak amalan tertentu.

Setiap zikir dan amalan harus diserap dari seorang pembimbing, terutama bagi kalangan awam. Poin ini, oleh Al-Nazili dijadikan sebagai pungkasan dari kitab Khazinat. Al-Nazili menekankan pentingnya belajar agama dari seorang guru atau mursyid yang sempurna. Hal tersebut mutlak diperlukan agar seorang salik selama proses meniti jalan menuju Rabb-nya, terjaga di koridor yang lurus dan terhindar dari akhlak tercela. 

Tidak semua guru layak didaulat sebagai penunjuk jalan. Oleh karena itu, penting memilih sosok guru yang ideal. Al-Nazili memberikan sejumlah ciri-ciri mursyid yang sempurna, mengutip perkataan Al-Sahruwardi, mursyid harus taat kepada Rasulullah, mempunyai sanad berguru, zuhud, memiliki tingkat spiritual yang tinggi, walaupun karakteristik mursyid yang mempunyai kriteria sempurna untuk saat ini susah ditemukan.

Sebagai tambahan amal, kitab ini layak dimiliki dan dipelajari oleh setiap Muslim untuk menambah amal kebaikan agar semakin dekat kepada Allah SWT.

Sumber :
http://m.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/17/03/31/onoabl313-belajarlah-zikir-dari-guru-yang-sempurna

0 komentar:

Posting Komentar