Senin, 20 Februari 2017

Konsistensi Menjaga Risalah Muhammad SAW


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Sejak semula, Abu Bakar bertekad tidak meninggalkan apa pun yang dikerjakan Rasulullah. Tidak ada tawar-menawar soal ini.

Sebagai contoh, selain ihwal kewajiban zakat, juga ketika para sahabat meminta Abu Bakar mengubah sikap terkait pengiriman pasukan Usamah. Abu Bakar tetap berpegang teguh agar pasukan tetap menjalani perintah sebagaimana yang telah dititahkan Rasulullah . 

Inilah yang membuat kaum Muslimin kian respek terhadap Abu Bakar. Setelah kekalahan orang-orang murtad, mereka kemudian berlomba-lomba dalam menunaikan zakat kepada Khalifah. Demikianlah, Abu Bakar mengampuni kabilah-kabilah yang sempat membangkang tetapi akhirnya bersedia untuk menunaikan zakat. 

Yang mula-mula datang membayar zakat ialah kabilah Safwan dan Zabriqan, para pemimpin Banu Tamim, serta Adi bin Hatim atas nama kabilahnya, Tayyi'. Ada pula beberapa suku yang jauh dari Madinah yang tetap bersikeras enggan membayar zakat. Sebab, mereka beranggapan zakat adalah upeti tanda ketundukan mereka kepada Madinah, padahal Nabi sudah wafat. Di sinilah tampak fanatisme kesukuan mereka.

Abu Bakar sendiri tidak memiliki fanatisme kesukuan. Ia hanya berpendirian bahwa Islam harus tegak di atas muka bumi. Atas sikap ini, sahabat Abdullah bin Mas'ud mengenangnya: Setelah ditinggalkan Rasulullah, keadaan kami (umat Islam) hampir binasa kalau tidak karena karunia Allah dengan Abu Bakar kepada kami. Kami sudah sepakat tidak akan memerangi anak-anak unta betina itu (kaum pemberontak). Kami akan beribadah kepada Allah hingga benar-benar yakin. Tetapi Allah telah memberikan keteguhan hati kepada Abu Bakar untuk memerangi mereka. 

Menurut Muhammad Husain Haekal dalam buku Abu Bakr as-Sidiq, sekiranya Abu Bakar hendak berkompromi mengenai pesan Rasulullah  atau segala ketentuan agama ini, tentu risalah Islam mengalami keguncangan yang tak berkesudahan. Apalagi, dengan munculnya para nabi palsu, yakni orang yang mengaku dirinya utusan Tuhan pengganti Rasulullah. 

Bila demikian, akan muncul jalan kebimbangan terhadap ajaran Nabi Muhammad. Semenanjung Arabia akan kembali tenggelam dalam era jahiliyah, ketika masing-masing kabilah berperang demi pamor dan bersekutu demi kepentingan politis sesaat, bukan membela kebenaran hakiki dan berjuang meneguhkan Islam.

Momentum ini, menurut Husain Haekal, sebenarnya serupa dengan yang pernah terjadi di zaman Nabi  masih hidup. Kala itu, ada delegasi dari Saqif yang mendatangi Rasulullah untuk berbaiat kepada beliau serta menyatakan diri dan kaumnya masuk Islam. Namun, pemuka Saqif meminta kepada Rasulullah agar dibebaskan dari kewajiban menunaikan shalat. 

Maka, Rasulullah menjawabnya dengan mengatakan, Tidak baik agama yang tidak disertai shalat. Husain Haekal menilai, Abu Bakar mungkin juga menyandarkan pendapatnya pada sabda Nabi  demikian. Beragama Islam secara sempurna (kaffah) memang membutuhkan komitmen.

Sumber : http://m.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/17/02/20/oloiky313-konsistensi-menjaga-risalah-muhammad-saw

0 komentar:

Posting Komentar