Senin, 27 Mei 2013

Empat Tingkatan Cara Allah SWT Memberi Rizki

Rizki selama ini identik dengan uang, harta, atau kekayaan secara umum. Dalam pandangan kita, uang dapat membeli segalanya. Padahal, meskipun punya uang, kita hanya bisa membeli obat, bukan kesehatan itu. Contoh yang sederhananya saja, salah satu yang tidak bisa dibeli dengan uang adalah masa lalu.
Rizki Allah itu Maha Luas. Mencakup apa yang ada diseluruh dunia dan isinya. Bisa berupa kesehatan, udara, kekayaan, atau cinta. Jangan pula konsentrasi kita habis pada contoh di atas. Mari kita lanjutkan penjelasan bahwa rezki Allah itu maha luas. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa ada empat tingkatan cara Allah memberi rezki kepada makhluknya.
Pertama, rezki yang dijamin oleh Allah untuk semua makhluknya. Rezki ini dapat dikelompokan menjadi rizki tingkat pertama. Allah SWT dalam firmannya menyebutkan bahwa, "Tidak suatu binatangpun (termasuk manusia) yang bergerak di atas bumi ini yang tidak dijamin oleh Allah rezekinya." (QS. Huud [11]: 6)
Ayat di atas mengandung arti bahwa setiap makhluk Allah SWT di dunia ini akan diberikan rezki oleh Allah SWT. Rizki dalam arti yang luas tadi, baik berupa kesehatan, makan, minum untuk seluruh makhluk hidup di dunia ini.
Allah melalui sifatnya yang Ar-rahman (Maha Pengasih) dan Ar-rahim (Maha Penyayang) akan menjamin semua rizki itu. Kasih Allah tidak pilih kasih dan Sayang Allah juga tidak terbilang (jumlahnya). Setiap makhluk di dunia ini baik yang berdoa maupun tidak, baik yang bersyukur maupun tidak, baik beragama islam ataupun tidak, maka tetap saja diberikan oleh Allah rizki. Tentu saja kelompok ini tidak mendapatkan rizki yang umum saja sama seperti membeli sebuah mobil avanza, maka mobil avanza itu adalah seri terendah yang hanya tidak memiliki kelengkapan dan kemewahan seperti seri termahal karena inilah bentuk terendah dari rizki yang diberikan oleh Allah SWT.
Kedua, rizki yang diupayakan oleh makhluknya. Ini adalah kategori rizki kedua yang merupakan lanjutan dari rizki tingkat pertama. Ketika semua makhluk tanpa berikhtiar pun telah di jamin oleh Allah karena Ar-rahman dan Ar-rahimnya,  maka     Allah           juga
menjamin rizki setiap makhluknya yang telah berusaha. Ini sunatullah. Sudah ada merupakan hukum ketetapan Allah bahwa setiap makhluknya akan mendapat rizki baik yang bersyukur atau tidak, yang beragama Islam atau tidak namun apabila mereka berusaha tetap Allah jamin rizki sejauh apa yang telah dilakukannya.
Allah berfirman dalam Al quran surat ke 53, ayat 39 mengatakan bahwa "Tidaklah manusia mendapat apa-apa, kecuali apa yang telah dikerjakannya" (QS. 53: 39). Artinya, Allah sudah pasti memberikan rizki setiap apa yang kita kerjakan. Baik berupa uang, kesehatan, makan, dan minum dan sebagainya.
Setiap makhluk akan diberikan imbalan atas usaha yang mereka kerjakan. Bila apa yang mereka punyai lebih banyak daripada yang lainnya seperti ilmu, kekuasaan, atau kesungguhan yang lebih maka ia otomatis akan mendapatkan rizki berdasarkan apa yang mereka capai.
Ketiga, rizki makhluk yang bersyukur. Inilah tingkatan rizki yang selanjutnya. Tingkatan ini lebih tinggi daripada yang pertama dan kedua tadi. Rizki pada tahapan ini tidak semua makhluk mendapatkannya. Bila setiap makhluk hidup sudah dijamin rizkinya pada tingkatan pertama, maka kemudian ia berhak mendapatkan rizki tambahannya atas apa yang ia kerjakan pada tingkatan kedua tetapi rizki yang mereka dapatkan tidak akan ditingkatkan atau lebih banyak bila mereka tidak termasuk kelompok orang yang bersyukur.
Allah berfirman bahwa “... Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS. Ibrahim [14]: 7). Ini janji Allah kepada kita selaku hambaNya. Bila kita berysukur, maka Allah akan tepati janjiNya untuk memberi kita rizki yang lebih banyak.
Cara kita bersyukur tentu tidak cukup mengatakan Alhamdulilahirabillalamin saja. Kita harus masuk ketingkat syukur yang lebih tinggi yaitu, meningkatkan keimanan dan ketaqwaan, berbagi ketika di saat lapang dan sempit, berusaha agar lebih giat juga merupakan bentuk syukur. Inilah bentuk rasa syukur itu.
Keempat, rizki untuk ummat yang paling di sayang Allah yakni ummat yang selalu beriman dan bertaqwa. Inilah tingkatan tertinggi rizki yang akan dijanjikan oleh Allah SWT. Pada tingkatan ini, tidak semua makhluk akan mendapatkannya.
Dalam firman Allah selanjutnya, maka Allah mengatakan bahwa ".... Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq [65]:2-3).
Dengan ayat di atas, maka tidak salah ketika kita melihat ustadz dibayar honornya dengan sangat mahal dibanding ustadz lainnya. Itu hak mereka. Hak atas rasa syukur dan taqwa mereka kepada Tuhannya. Apakah kita tahu yang sudah dilakukan para ustadz itu di siang dan malam hari mereka ? Kita tidak mengetahui bukan ?

Siapa tahu ketika sepertiga malam mereka terbangun di saat kita tidur pulas dan mereka meminta kepada Tuhan mereka atas rezki yang banyak daripada hamba Allah yang sedang tertidur. Walaupun mereka tidak berdoa seperti itu, tapi sudah ketetapan Allah demikian bahwa orang yang bangun sepertiga malam akan diberikan rizki yang banyak. Begitu juga ketika pagi dan siang, mereka shalat dhuha dan amalan lainnya maka Allah kemudian menepati janjiNya kepada orang-orang seperti ini.
Mungkin kita melihat ada hamba Allah yang di luar mainstream di atas. Ia tidak bertaqwa, tidak pula berysukur dalam pandangan kita sebagai manusia tapi tetap diberikan Allah rizki yang berlimpah oleh Allah swt. Bagi kita, tidak ada gunanya hidup mengurusi kekayaan atau rizki yang didapatkan oleh orang lain. Lebih baik menghabiskan energy untuk terus berupaya meningkatkan keimanan dan ketaqawaan kita agar rizki yang kita dapat juga terus bertambah.
Semua rizki yang Allah berikan akan dipertanggungjawabkan di akhirat nanti. Jadi, tidak usah iri apabila ada orang-orang yang diberikan rizki lebih padahal mereka tidak setaat kita, begitu menurut kita. Pandangan kita bisa saja salah, tapi pandangan Allah jualah yang maha benar. Tujuan hidup adalah beribadah kepada Allah swt maka seharusnya kita berlomba-lomba dalam   kebaikan   untuk   hidup   yang
kekal di akhirat nanti.
Sebaliknya, barangkali kita juga melihat bahwa masih banyak ummat muslim yang miskin secara ekonomi, tapi bisa saja Allah memberikan rizki di akhirat nanti berupa syafaat dari Rasul Alllah. Miskin dan kaya hanyalah ujian bagi hamba Allah yang bertaqwa. Apakah rizki yang diberikan bisa mendekatkan mereka kepada Allah atau tidak. Maka, si hamba yang bertaqwa tadi pasti Allah berikan rizki yang luar biasa.
Bila mereka memiliki ilmu, kekuasaan, kesungguhan, dan bertaqwa pula maka sesuai janji Allah semua hambaNya yang melakukan empat tahapan di atas maka berhak mendapat semua tingkatan rizki itu. Maka tugas kita adalah terus-menerus menuju ke level ini. Mari kita kembalai bahwa konsep rizki bukan hanya tentang kaya dan miskin namun lebih luas daripada itu hanya saja kita tidak mengetahui, belum mengetahui, atau lupa bersykur bahwa apa yang kita dapatkan sudah begitu banyak. Iri melihat orang lain dapat menjerumuskan kita kepada sikap khufur. Namun, semoga kita selalu menjadi orang yang selalu bersyukur.


Wallahu a’lam....

2 komentar:

  1. nah di update kaya gigni nich yg buat orang datang lagi, :-)

    BalasHapus
  2. setuju banget ini pernah terfikikan di benakku min :D
    numpang min gpp yah moga jd amal ibadah...
    diajak bisnis sama orang terkenal di daerahmu mau ga ? kalo diajak bisnis sama ust. Yusuf mansur gemana ? masa sih gamau... silahkan pelajari kalo udah kebayang bisa ditanyakan cara ngejalaninnya gampang... Bisnis berjamaah Niatin Ibadah Jangan tergesah-gesah sukses dan berkah insha allah http://vsinetwork.co/id/niatibadah pengeluaran jd pemasukan bareng ust.yusuf mansur beli kembali Indonesia Muhammad Natsir : Islam ibadah dibiarkan,Islam ekonomi di awasi,Islam politik diberangus. Mangkanya umat islam kudu berjamaah !! kalo ada yg siap berjamaah bisa sharing https://www.facebook.com/BocahMasjidsuksesBerjamaah

    BalasHapus